Tuesday, January 13, 2015

Rumput laut bisa menjadi unsur penting dalam upaya penurunan berat badan, kata sejumlah pakar.


KOMPAS.com — Rumput laut bisa menjadi unsur penting dalam upaya penurunan berat badan, kata sejumlah pakar.

Ilmuwan di Universitas Newcastle mengatakan, komponen alginat yang ditemukan dalam rumput laut bisa menekan proses pencernaan lemak di dalam usus.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Chemistry menunjukkan bahwa salah satu tipe alginat dapat menurunkan penyerapan lemak hingga 75 persen.

Meskipun tidak dianggap sebagai makanan yang cukup lezat, pakar mengisyaratkan bahwa serat alami yang ditemukan dalam rumput laut bisa menjadi kunci keberhasilan penurunan berat badan.

Ketua penelitian, Prof Jeff Pearson, dari Institut Bioteknologi Sel dan Molekuler, Universitas Newcastle, mengatakan: "Kami mencoba menambahkan alginat pada roti, dan tes awal menunjukkan rasa yang sangat menggembirakan."

Atasi obesitas?

Sekarang langkah selanjutnya adalah melakukan uji klinis untuk mengetahui seberapa efektif alginat bila dimakan sebagai bagian dari diet yang normal.

Peneliti dalam uji coba ini menyelidiki kemampuan alginat untuk mengurangi lemak yang diurai oleh oleh enzim pencernaan, lipase pankreas.

Semakin sedikit enzim ini bekerja, penyerapan lemak akan menjadi lebih sedikit.

Sementara itu, mereka mengatakan hal ini bisa membantu melawan obesitas, ahli diet yang lain mengatakan cara terbaik untuk menghindari penyerapan lemak yang terlalu banyak adalah dengan tetap mengurangi jumlah asupan lemak tiap hari.

Obesitas menjadi ancaman yang semakin besar terutama di negara-negara berkembang, kata laporan sebuah lembaga riset di Inggris.

Makanan Sehat

Perkembangan teknologi banyak memberikan efek negatif bagi kesehatan terutama karena terkontaminasinya makanan dan minuman. Kontaminasi terjadi karena kesalahan penggunaan bahan-bahan berbahaya seperti pada tanaman-tanaman atau ketidak sengajaan atau kesengajaan dari manusia untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. 

Sebagai contoh semprotan herbisida pada tanaman saat berbuah atau bekas semprotan serangga yang masuk ke air dan mengalir pada air minum. Air minum tersebut dimasak, namun racun tersebut tidak bisa terurai atau tidak bisa terbuang begitu saja tanpa proses kimia yang benar. Akhirnya air minum tersebut dikonsumsi manusia.

Untuk menghindari adanya berbisida yang berbahaya tersebut, maka perlu mengetahui proses makanan seperti beras, siapa yang memproses, di mana, dan bagaimana caranya. Kadang masyarakat terhanyut dengan harga yang murah. Padahal beras tersebut beracut yang lambat-laum akan nampak pada kondisi kesehatan manusia secara tidak sadar.

Kenapa Celana Dalam Ketat Berbahaya bagi Pria?


Liputan6.com, Jakarta Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kebiasaan-kebiasaan tertentu dapat mempengaruhi kesuburan pria. Seperti misalnya, duduk terlalu lama saat mengemudi atau mengonsumsi makanan tertentu. Tapi tahukah Anda kalau celana dalam yang ketat juga mempengaruhi kesuburan pria?

Seperti disampaikan seorang urolog konsultan di Queen Elizabeth Hospital dan BMI The Priory Hospital, Inggris, Zaki Almallah bahwa banyak pria cenderung memilih celana dalam yang ketat untuk mengurangi gerakan. Sayangnya, hal ini berdampak pada testis dan merupakan kesalahan.

"Pria yang pernah mengalami semua jenis operasi testis, seperti vasektomi, disarankan untuk memakai celana nyaman yang pas (tidak terlalu ketat) untuk mencegah memar atau hematoma," kata Almallah, seperti ditulis Dailymail, Selasa (13/1/2015).

Celana ketat, lanjut Almallah, memiliki efek kompresi atau menghambat pembengkakan dan pendarahan. Sehingga akan lebih baik untuk laki-laki yang memiliki masalah kesuburan untuk menghindari celana ketat dan memilih celana dalam yang longgar. Apalagi pria yang memiliki epididimitis - seringkali akibat dari infeksi bakteri pada kandung kemih atau uretra (saluran yang menyalurkan urin atau air mani ke penis). Celana yang ketat akan sangat menyakitkan.

Lebih jauh, Almallah menerangkan, sperma yang diproduksi di testis yang membutuhkan suhu yang sedikit lebih rendah daripada bagian tubuh untuk bekerja secara efisien. Setidaknya, sperma butuh suhu sekitar 35 celsius, sekitar dua atau tiga derajat lebih rendah dari suhu tubuh. Nah, cara alami untuk menjaga sperma tetap sehat ini tergantung dari luar tubuh.

"Mengenakan celana dalam yang ketat akan menghilangkan mekanisme alami yang mengatur suhu sperma. Maka itu, ada baiknya laki-laki menghindari celana ketat dan memilih yang longgar," kata Almallah.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2012, dosen andrologi (studi reproduksi laki-laki) di University of Sheffield, Allan Pacey, menemukan bahwa pria yang memakai celana ketat cenderung memiliki konsentrasi pergerakan sperma yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan celana longgar mungkin menjadi cara murah untuk membantu kesuburan.

Dan satu lagi studi pada 1993, seorang peneliti dalam fisiologi seksual manusia, Profesor Ahmed Shafik menemukan bahwa anjing yang memakai celana poliester selama dua tahun mengalami penurunan jumlah sperma yang signifikan. Termasuk lambatnya pergerakan sperma dan tingginya jumlah sperma yang rusak. Sehingga dia menyarankan untuk
menghindari bahan poliester dan menggantinya dengan katun.

Kemudian Profesor Shafik melakukan penelitian kepada manusia lagi pada 1999. Hasilnya 4 dari 11 laki-laki memakai celana poliester mengalami jumlah sperma berkurang dan perubahan testis setelah 14 bulan.