Daun Sungkai
Indonesia adalah surga tanaman obat tradisional. Jauh
sebelum obat-obatan modern tersedia, nenek moyang kita telah
memanfaatkan aneka jenis tanaman obat untuk mengobati penyakit. Salah
satu tanaman obat tradisional yang akhir-akhir ini menjadi viral adalah
daun pohon sungkai.
Daun sungkai mendadak jadi buah bibir setelah Letjen Doni Monardo,
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, menyatakan di hadapan
para gubernur bahwa ia mendengar, daun sungkai mungkin bisa menjadi
kandidat obat corona.
Tanpa menunggu lama, Doni Monardo segera meminta Gubernur Jambi, Fachrori Umar, agar mengulik khasiat daun sungkai yang pohonnya banyak ditemukan di Provinsi Jambi.
Permintaan
Doni Monardo ini segera ditanggapi Gubernur Jambi. Fachrori Umar pun
telah meminta Dinas Kehutanan Provinsi Jambi guna meneliti khasiat daun
sungkai sebagai kandidat obat Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
Demikian dilansir Antara.
Profil Pohon Sungkai (Peronema canescens Jack.)
1. Nama ilmiah dan nama lokal
Dikutip dari laman gbif.org, nama ilmiah daun sungkai adalah Peronema canescens Jack. Pohon sungkai ini disebut dengan nama lain false elder dalam bahasa Inggris.
Dikutip
dari laman indoforest, dalam bahasa daerah Nusantara, pohon sungkai
disebut jati sabrang, jati londo, dan kurus. Tanaman ini juga dijumpai
di beberapa negara Asia Tenggara. Di Malaysia, tanaman sungkai disebut
sukai atau cherek. Di Negeri Gajah Putih Thailand, tanaman ini disebut
sangkae, khoeilai, sakae.
Tanaman sungkai sudah diteliti orang Eropa yang datang ke Jawa. Ini gambar dari Atlas der Baumarten von Java (1914).
Sungkai adalah pohon kecil sampai sedang
dengan mahkota berbentuk bulat telur yang dapat tumbuh hingga 20 meter
sampai 30 meter. Batangnya lurus atau sedikit lentur, biasanya dengan
penopang kecil, tidak bercabang hingga 9 - 15 meter dan berdiameter
hingga 70 cm. Demikian informasi dari worldagroforestry.org.
2. Manfaat Pohon Sungkai sebagai Kayu
Menariknya, pohon sungkai ini rupanya bisa dimanfaatkan kayunya.
Menurut riset Wahyudi, A. R Mojiol, dan Z. Muttaqin bertajuk "Growth and
Yield Analysis of Sungkai (Peronema canescens Jack.) in
Kalimantan, Indonesia ", pohon sungkai adalah pohon lokal (spesies asli)
yang berpotensi dikembangkan untuk ditanam di hutan tanaman dan
perkebunan wanatani.
Riset tersebut menunjukkan bahwa dalam 12
tahun, persentase ketahanan hidup pohon sungkai mencapai 89,7%. Artinya
pohon ini cukup "bandel".
Menurut Dephut (1989), kayu sungkai
mempunyai berat jenis purata 0.63; kelas awet III dan kelas kuat II-III.
Kayu sungkai cocok dipakai untuk bahan bangunan, perabot, beruti,
papan, lantai, dinding, patung dan ukiran, kerajinan tangan dan venir.
Kayu sungkai dikenal mempunyai warna yang cerah dan serat yang indah.
Artikel lengkap di sini.
Sementara laman indoforestry mencatat, kayu pohon sungkai ringan dan cukup kuat sehingga cocok dimanfaatkan untuk membuat finishing interior, dan terutama untuk rangka atap, gerobak, dan jembatan untuk lalu lintas ringan.
Pohon sungkai berbunga - Foto creative commons https://www.flickr.com/photos/3angel/
3. Manfaat Daun Sungkai sebagai Obat TradisionalOleh
masyarakat, daun sungkai dikenal memiliki sejumlah khasiat. Dikutip
dari laman tropical.theferns.info, khasiat sungkai antara lain:
- ramuan daun dan rebusan kulit sungkai sering digunakan masyarakat sebagai obat demam.
- rebusan daun digunakan sebagai tapal untuk obat kurap, dan sebagai pencuci mulut (mouthwash) untuk mengobati sakit gigi.
Informasi serupa dicatat oleh Ditjenhut (1980) sebagaimana dikutip Wahyudi et al (2016).
Daun sungkai - foto creative commons oleh https://www.flickr.com/photos/3angel/
4. Peta persebaran pohon sungkaiBerikut peta persebaran pohon sungkai menurut situs gbif.org:
Menurut laman kehati.jogjaprov, pohon sungkai dapat ditemukan di Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul dan Kulon Progo.
Harapan bagi Peneliti dan Masyarakat Indonesia
Harus
kita akui, riset tanaman obat di negara kita masih dapat dikembangkan
secara lebih serius dengan dukungan dana dari negara dan swasta. Amat
disayangkan bila nanti khasiat tanaman obat seperti sungkai ini
dilakukan negara lain dan diklaim oleh peneliti negara lain, padahal
tanaman ini juga telah dikenal baik oleh masyarakat Indonesia sejak
dahulu kala.
Selain
itu, masyarakat Indonesia hendaknya giat mencatat dan membukukan atau
mengulas dalam bentuk tulisan tentang khasiat tanaman obat tradisional
di sekitar kita. Resep obat tradisional kiranya perlu dicatat dan
didokumentasikan dengan baik. Ini adalah aset luar biasa bagi kemajuan
bangsa kita.
Sikap Bijaksana Menyikapi Berita "Obat Corona"
Sampai saat ini, Badan Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan hal-hal berikut dalam situs resminya (diakses pada 8 Juni 2020):
Beberapa pengobatan barat, tradisional atau rumahan dapat memberikan kenyamanan dan mengurangi gejala COVID-19 ringan, namun belum ada obat yang telah sungguh terbukti mencegah atau menyembuhkan penyakit covid-19.
WHO
tidak merekomendasikan pengobatan sendiri dengan obat apa pun, termasuk
antibiotik, sebagai pencegahan atau penyembuhan untuk COVID-19. Namun,
ada beberapa uji klinis obat-obatan barat dan tradisional, yang
menunjukkan perkembangan positif.
WHO sedang mengoordinasikan
upaya untuk mengembangkan vaksin dan obat-obatan untuk mencegah dan
mengobati COVID-19 dan akan terus memberikan informasi terbaru segera
setelah hasil penelitian tersedia.
Cara paling efektif untuk melindungi diri sendiri dan orang lain terhadap COVID-19 adalah dengan:
-Bersihkan tangan Anda secara teratur dan menyeluruh.
-Hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung Anda.
-Tutupi batuk dengan tekuk siku atau tisu. Jika tisu sudah digunakan, buanglah segera dan cuci tangan Anda.
-Pertahankan jarak minimal 1 meter dari orang lain.
Wasana Kata
Wasana
kata, daun sungkai pun kini masih diteliti sebagai kandidat obat
(peringan gejala) corona (covid-19). Kandidat artinya calon. Namanya
masih calon, belum tentu jadi benaran. Mirip pengalaman beberapa orang
yang "ditinggal calon padahal lagi sayang-sayangnya". Duh, kok endingnya jadi ambyar begini sih :)
Salam
lestari dan salam sehat. Maju terus para peneliti dan praktisi obat
tradisional Indonesia! Jika Anda punya pengalaman menggunakan sungkai
sebagai obat tradisional, sila bagikan pengalaman. Sila vote, komentar,
dan bagikan artikel ini jika berkenan.
NB: Penulis bukan ahli
botani dan ahli medis. Tulisan ini adalah deskripsi sederhana mengenai
tanaman sungkai, bukan rujukan medis.