Sunday, June 29, 2025

8 Bahan Rumahan untuk Bantu Mencegah dan Mengeluarkan Batu Ginjal, Apa Saja?

KOMPAS.com - Batu ginjal adalah endapan keras yang  terbuat dari bahan kimia yang berada di dalam urine. Dilansir dari Kidney.org, zat-zat kimia pembentuk batu ginjal yaitu kalsium, oksalat, sistin, xantin, dan fosfat. 

Endapan batu ginjal sebenarnya adalah pengkristalan zat sisa urine yang terlalu banyak dalam cairan yang terlalu sedikit. Batu ginjal yang menyerupai kerikil ini terkadang bisa keluar dengan sendirinya tanpa menimbulkan rasa sakit. 

Namun, kondisi ini umumnya menimbulkan gejala nyeri kronis di punggung bawah, mual, adanya darah dalam urine, hingga urine keruh dan berbau tidak sedap. Karena mengganggu saluran kemih dan bisa menimbulkan rasa sakit luar biasa, batu ginjal perlu dicegah dengan mengonsumsi asupan tertentu.

8 bahan rumahan untuk cegah dan atasi batu ginjal Berikut daftar bahan rumahan untuk mencegah dan mengatasi atau mengeluarkan batu ginjal: 

1. Air putih 

Ahli urologi di Weil Cornell Medicine, Kiersten Craig mengungkapkan bahwa minum cukup air putih bisa mencegah dan mengatasi batu ginjal. Sebab, batu ginjal terbentuk ketika mineral dan garam tertentu di dalam urine mengendap dan menggumpal. Minum banyak air bermanfaat menjaga urine tetap encer dan membersihkan ginjal serta saluran kemih. Dengan begitu, mineral dan garam tidak menumpuk dan mengeras menjadi batu ginjal. "Jika Anda memiliki batu ginjal, dokter menyarankan untuk minum sekitar tiga liter air sehari," ujar Craig. 

2. Cuka 

Penelitian oleh EBioMedicine pada 2019 menemukan bahwa asam asetat dalam cuka bermanfaat mengatur kadar sitrat dan kalsium dalam urine. Adapun dua zat ini bermanfaat membantu mencegah terbentuknya batu ginjal.

Selain itu, asam asetat juga diperkirakan bisa membantu melarutkan batu ginjal sehingga mudah keluar. Baca juga: Dokter Ungkap 4 Makanan dan Minuman yang Terbukti Cegah Batu Ginjal Bahan rumahan satu ini dapat disantap dengan cara dicampurkan dalam saus salad atau dicampurkan dalam segelas air (misalnya cuka sari apel), kemudian diminum. 

3. Kacang merah dan kaldu kacang 

Studi oleh Nutrients pada 2020 menemukan bahwa kacang-kacangan pada umumnya, termasuk kacang merah, bisa membantu menghilangkan batu ginjal dan mencegahnya terbentuk lebih lanjut. Sementara itu, penelitian lain oleh International Journal of Research in Pharmaceutical Science pada 2020 meminta pasien batu ginjal untuk mengonsumsi kaldu kacang rebus lima kali sehari. Hasilnya, kaldu kacang bisa meningkatkan volume urine sehingga membantu keluarnya batu ginjal dan meredakan nyeri. Adapun kacang merah juga mengandung magnesium dan kalium yang dikaitkan dengan penurunan risiko batu ginjal.

4. Lemon 

Selanjutnya, lemon juga bisa digunakan untuk mencegah dan mengatasi batu ginjal dengan cara diolah menjadi jus. Hal ini dibuktikan oleh studi The Journal of Urology pada 2007 yang menemukan bahwa minum dua liter air dengan empat ons jus lemon dalam sehari bisa menurunkan laju pembentuk batu ginjal dari 1,00 menjadi 0,13 per orang per tahun. Hal ini disebabkan karena lemon mengandung sitrat yang pada dasarnya melapisi endapan kalsium dan oksalat di dalam urine agar tidak menggumpal. Baca juga: Mengenal Ginjal Bocor: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Sumber sitrat yang lain, meliputi jeruk bali, jeruk, dan jeruk keprok. 

5. Delima 

Selain minuman lemon, jus buah delima juga dianjurkan untuk mencegah terbentuknya batu ginjal. Buah delima sendiri umumnya digunakan untuk mengatasi tukak lambung dan diare. Baca juga: 8 Makanan Terbaik Selama Kemoterapi untuk Penderita Kanker dan Manfaatnya Manfaat ini disebabkan oleh kandungan antioksidan delima yang tinggi, hingga 2 kali lebih banyak dibandingkan dengan anggur merah atau teh hijau. Analisis oleh Journal of Endourology pada 2011 menemukan bahwa orang dewasa dengan riwayat batu ginjal memiliki kadar antioksidan lebih rendah 8 hingga 11 persen dalam serum darah mereka. 

6. Teh hijau

Penelitian oleh International Journal of Urology pada 2018 menemukan bahwa orang yang gemar minum teh hijau memiliki risiko lebih rendah terkena batu ginjal daripada yang bukan penggemar teh tersebut.

Teh hijau mengandung banyak antioksidan yang bermanfaat mencegah pembentukan batu ginjal. Baca juga: 3 Pasien Ceritakan Gejala Awal dan Penyebab dari Batu Ginjal yang Mereka Alami 

7. Teh kembang sepatu 

Selanjutnya, teh kembang sepatu juga layak dikonsumsi untuk mengurangi risiko batu ginjal karena bunga ini kaya akan antioksidan dan dapat menjaga hidrasi tubuh. Selain itu, studi oleh Journal of Ethnopharmacology pada 2008 juga menemukan bahwa teh kembang sepatu bisa mengurangi jumlah asam urat dalam darah dan mendorong ekskresinya melalui urine. 

Dengan begitu, besar kemungkinan terbentuknya batu ginjal menjadi berkurang. Bahan rumahan satu ini juga bersifat diuretik yang membantu tubuh mengeluarkan kelebihan air dan garam melalui urine. Hal ini bisa membantu mengeluarkan batu ginjal yang sudah terbentuk. 

8. Buah dan sayur. 

Terakhir, para ahli menyarankan untuk mengonsumsi buah dan sayur serta biji-bijian utuh dan protein sebagai pola makan untuk mencegah terbentuknya batu ginjal. Pola makan ala DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) merupakan salah satu pilihan yang sesuai dengan pedoman ini. 

Studi oleh Journal of the American Society of Nephrology pada 2009 menemukan bahwa orang yang mengikuti diet gaya DASH secara ketat memiliki risiko 55 hingga 60 persen lebih rendah terkena batu ginjal dibandingkan dengan mereka yang tidak. Hal ini disebabkan kandungan sitrat dalam buah dan sayur dapat mencegah terbentuknya batu ginjal. Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu.



Berapa Ukuran Batu Ginjal yang Berbahaya?

KOMPAS.com - Batu ginjal merupakan endapan keras yang terbentuk dari mineral dan garam dalam ginjal.

Kondisi ini bisa terjadi ketika urine mengandung zat pembentuk kristal dalam jumlah tinggi, seperti kalsium, oksalat, dan asam urat.

Seiring waktu, zat tersebut dapat menggumpal dan membentuk batu.

Meskipun awalnya tidak menimbulkan gejala, batu ginjal bisa memicu rasa sakit hebat ketika mulai bergerak melalui saluran kemih.

Rasa nyeri akibat batu ginjal umumnya terasa tajam dan menusuk, biasanya muncul di bagian pinggang, perut bagian bawah, atau bahkan menjalar hingga ke selangkangan.

Tingkat rasa sakit ini bergantung pada ukuran batu ginjal dan posisinya.

Lalu, berapa ukuran batu ginjal yang berbahaya?

Ukuran batu ginjal yang berbahaya

Dikutip dari Saint John's Cancer Institute, batu ginjal yang berbahaya adalah batu yang menghalangi keluarnya urine.

Jika sampai menyumbat urine, batu ginjal dapat menyebabkan infeksi dan kerusakan ginjal, sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Selain itu, batu ginjal biasanya tidak akan menimbulkan rasa sakit dan luruh saat keluarnya air kenci

Namun, jika batu tersebut menyumbat ureter, hal itu menimbulkan tekanan pada ginjal dan memicu pembengkakan ginjal, yang mengakibatkan rasa sakit dan mual.

Dilansir dari Urology Associates of Central Missouri, batu ginjal yang berukuran 4 milimeter (mm) atau kurang akan keluar dengan sendirinya dalam waktu 31 hari.

Kemudian, batu ginjal yang berukuran 4-6 mm hanya 60 persen yang keluar tanpa bantuan medis.

Pada ukuran ini, batu ginjal rata-rata membutuhkan waktu 45 hari untuk keluar dari tubuh secara alami.

Sementara, batu ginjal dengan ukuran lebih dari 6 mm termasuk berbahaya dan butuh tindakan medis untuk mengeluarkannya.

Jika batu ginjal berukuran lebih dari 6 mm tidak dikeluarkan, akan menimbulkan rasa nyeri hebat.

Salah satu cara untuk mengeluarkan batu ginjal adalah melalui terapi gelombang suara, pembedahan, dan penggunaan ureteroskop.

Terapi gelombang kejut adalah suatu proses yang disebut litotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal untuk menciptakan getaran yang ditujukan pada batu ginjal.

Ini dilakukan untuk memecah mineral yang lebih besar menjadi potongan-potongan lebih kecil sehingga dapat dikeluarkan oleh tubuh.

Sementara, pembedahan atau disebut juga dengan nefrolitotomi perkutan, dilakukan untuk mengangkat batu ginjal menggunakan teleskop dan instrumen kecil.

Ureteroskop dilakukan untuk mengangkat batu besar yang terletak di ureter. Metode ini menggunakan lingkup tipis agar bisa masuk melalui uretra dan mengambil atau memecah endapan mineral.


Penyebab dan Cara Cegah Penyakit Ginjal Kronis di Usia Muda

Penyakit ginjal kronis (PGK) atau chronic kidney disease (CKD) kini tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut. Semakin banyak anak muda, bahkan remaja, yang didiagnosis mengalami gangguan fungsi ginjal secara bertahap hingga tahap akhir. 

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, mengingat ginjal merupakan organ vital yang menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah, serta menjaga keseimbangan elektrolit tubuh. 

Jika tidak ditangani, PGK dapat berujung pada gagal ginjal yang memerlukan cuci darah (hemodialisis) seumur hidup atau transplantasi ginjal.

Penyebab Penyakit Ginjal Kronis di Usia Muda

Menurut National Kidney Foundation serta beberapa sumber lainnya, PGK didefinisikan sebagai kerusakan ginjal atau penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) selama lebih dari tiga bulan. Di usia muda, penyebab utamanya bisa dikategorikan menjadi faktor bawaan, gaya hidup, serta penyakit penyerta.

Hipertensi dan Diabetes Tipe 2 yang Muncul Dini 

Meningkatnya prevalensi obesitas dan gaya hidup sedentari (minim aktivitas fisik) membuat anak muda lebih rentan terhadap hipertensi dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi ini merupakan penyebab utama PGK di seluruh dunia. 

Diabetes merusak pembuluh darah kecil di ginjal, sementara hipertensi meningkatkan tekanan dalam sistem penyaringan ginjal yang menyebabkan kerusakan bertahap. 

Penggunaan Obat dan Suplemen Berlebihan

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen sering dikonsumsi tanpa resep dokter. Penggunaan jangka panjang dapat merusak jaringan ginjal. Selain itu, suplemen protein atau pembakar lemak yang tidak terstandarisasi juga dapat memberikan beban berat pada ginjal.

Infeksi Saluran Kemih Berulang dan Batu Ginjal

Infeksi yang tidak ditangani secara tuntas dapat naik ke ginjal dan menyebabkan pielonefritis kronis. Sementara batu ginjal yang berulang dapat menyumbat aliran urin dan merusak jaringan ginjal. Kedua kondisi ini umum terjadi pada usia muda, terutama pada perempuan. 

Kondisi Bawaan dan Genetik

Penyakit ginjal polikistik, refluks vesikoureteral, atau kelainan struktural pada ginjal dapat ditemukan sejak kecil namun baru terdiagnosis di usia muda. Kondisi ini menyebabkan kerusakan ginjal secara bertahap jika tidak dikelola dengan baik. 

Cara Mencegah Penyakit Ginjal Kronis Sejak Dini

Mencegah lebih baik daripada mengobati, dan hal ini sangat relevan dalam konteks PGK yang belum memiliki terapi kuratif selain transplantasi. Berikut langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan:

Rutin Memeriksa Tekanan Darah dan Gula Darah

Deteksi dini hipertensi dan diabetes sangat krusial. Anak muda dengan riwayat keluarga sebaiknya mulai memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala sejak usia 20-an.

Hindari Konsumsi Obat Secara Sembarangan

Konsultasikan setiap penggunaan obat, termasuk jamu atau suplemen, dengan tenaga kesehatan. Hindari penggunaan jangka panjang NSAID tanpa pengawasan.

Perbanyak Minum Air Putih dan Kurangi Garam

Air putih membantu fungsi filtrasi ginjal secara alami. Sementara konsumsi garam yang berlebihan berkontribusi pada hipertensi dan pembentukan batu ginjal.

Gaya Hidup Aktif dan Sehat

Olahraga rutin, pola makan seimbang, serta menjaga berat badan ideal sangat membantu menjaga tekanan darah dan kadar gula tetap normal.

Jaga Kebersihan dan Waspadai Infeksi Saluran Kemih

Menghindari menahan buang air kecil dan menjaga kebersihan area genital dapat mencegah infeksi yang bisa merusak ginjal.

Lakukan Pemeriksaan Fungsi Ginjal Secara Berkala

Terutama bagi individu dengan faktor risiko, pemeriksaan kreatinin serum dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) bisa mendeteksi penurunan fungsi ginjal sejak dini.

Penyakit ginjal kronis memang berkembang secara perlahan, namun dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup. Di usia muda, kesadaran untuk mengenali risiko dan menerapkan gaya hidup sehat menjadi kunci utama untuk mencegah penyakit ini. 

Jangan tunggu sampai gejala muncul --- karena ketika ginjal mulai memberi sinyal, seringkali kerusakannya sudah cukup parah. Mulailah dari langkah kecil hari ini, untuk menjaga kesehatan ginjal Anda hingga tua nanti.

Hidup dengan satu ginjal

KOMPAS.com - Pada umumnya, manusia mempunyai dua ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah serta mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.

Namun, beberapa orang mungkin saja hidup dengan satu ginjal. Kondisi ini disebut dengan ginjal soliter.

Ginjal soliter terjadi karena berbagai faktor, seperti terlahir dengan satu ginjal atau ginjal tidak berfungsi secara normal.

Dokter Subspesialis Ginjal Hipertensi di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, Wachid Putranto mengatakan, orang yang hidup dengan satu ginjal masih bisa hidup dengan normal seperti orang dengan dua ginjal.

"Orang dengan satu ginjal yang masih normal sama sehatnya dengan orang dengan dua ginjal," kata dia, saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (18/5/2025).

Meski demikian, Wachid tetap mengimbau agar orang yang hanya memiliki satu ginjal untuk menjalani pola hidup sehat seperti orang yang memiliki dua ginjal.

Lantas, apa risiko dan dampak hidup dengan satu ginjal?

Dampak hidup dengan satu ginjal

Sebagian besar orang dengan satu ginjal dapat menjalani hidup sehat tanpa mengalami masalah dalam jangka pendek ataupun panjang.

National Kidney Foundation (NKF) menyatakan, satu ginjal dapat bekerja sebaik dua ginjal.

Namun, jika ginjal berhenti bekerja, biasanya setelah 25 tahun atau lebih, ada kemungkinan terjadi komplikasi penyakit, seperti:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Hipertensi selama kehamilan
  • Peningkatan protein dalam urine (proteinuria)
  • Kehilangan kemampuan menahan cairan.

Hal ini terjadi karena tak ada ginjal cadangan untuk mengimbangi hilangnya fungsi ginjal lainnya.

Akan tetapi, jika ginjal hanya kehilangan beberapa fungsi, biasanya risiko penyakit yang mengikutinya tidak akan parah dan tidak berdampak pada masa harapan hidup seseorang.

Pada penderita hipertensi, gejala tersebut bisa menjadi tanda disfungsi ginjal. Kondisi ini terjadi karena tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah dalam ginjal sehingga memperburuk fungsi ginjal.

Penyebab seseorang hidup dengan satu ginjal

Dikutip dari NFK, hidup dengan satu ginjal bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

1. Agenesis ginjal

Agenesis ginjal terjadi ketika seseorang dilahirkan dengan satu ginjal atau ginjal soliter.

2. Displasia ginjal

Kondisi ini terjadi ketika seseorang dilahirkan dengan dua ginjal, tetapi hanya satu yang berfungsi.

3. Pembedahan

Seseorang mungkin harus hidup dengan satu ginjal setelah menjalani pengangkatan satu ginjal selama operasi untuk mengobati cedera atau penyakit seperti kanker.

5. Donor transplantasi

Orang dengan gagal ginjal mungkin menerima transplantasi ginjal karena organ tersebut tidak dapat bekerja dengan cukup baik.

Bagi donor ginjal, menyumbangkan organ kepada seseorang membuatnya hanya hidup dengan satu ginjal.

Cara hidup sehat dengan satu ginjal

Bagi orang yang hidup dengan satu ginjal, sebaiknya berkonsultasi kepada dokter untuk menanyakan obat-obatan dan aktivitas seperti apa yang sebaiknya dihindari.

Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya cedera ginjal, terutama pada pasien anak-anak.

Selain itu, menjalani pola hidup sehat juga penting untuk menjaga agar fungsi ginjal bekerja dengan baik.

Dikutip dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, seseorang yang hidup dengan satu ginjal disarankan untuk tetap terhidrasi dengan baik, tidak mengonsumsi garam terlalu banyak, serta mengelola berat badan.

Jika fungsi ginjal yang tersisa mulai menurun, segera ubah pola makan untuk memperlambat perkembangan penyakit ginjal.

Jangan lupa untuk konsultasi dengan dokter dan ahli diet terdaftar untuk menyusun rencana makan agar ginjal tetap sehat.

Saturday, June 28, 2025

5 Tanda Awal Kerusakan Ginjal yang Muncul Pagi Hari,

 5 Tanda Awal Kerusakan Ginjal yang Muncul Pagi Hari, Perhatikan Sinyal Tubuh Ini!

Khawatir punya penyakit ginjal? Pahami yuk Bunda tanda awal kerusakan ginjal yang biasa muncul pada pagi hari.

Ginjal berperan penting dalam menyaring limbah dan kelebihan cairan dari tubuh, serta menjaga keseimbangan tekanan darah. Namun organ ini rentan mengalami kerusakan tanpa disadari karena gejalanya sering kali muncul secara perlahan. 

Kerusakan ginjal sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas di tahap awal sehingga banyak orang baru menyadari ketika kondisinya sudah memburuk. Oleh karena itu, penting memperhatikan setiap perubahan kecil pada tubuh, terutama yang muncul saat pagi hari.

Beberapa gejala seperti tubuh tiba-tiba bengkak, perubahan pada urine, atau rasa lelah yang berlebihan bisa menjadi indikasi awal ginjal tidak bekerja dengan baik. Selain itu, faktor gaya hidup, termasuk pola makan tinggi garam, kurang minum air putih, dan kebiasaan mengonsumsi obat tanpa pengawasan dokter dapat mempercepat kerusakan ginjal.

Mengidentifikasi gejala kerusakan ginjal lebih dini dan melakukan perubahan gaya hidup yang sehat bisa membantu Bunda mencegah masalah ginjal yang lebih serius.

Tanda awal kerusakan ginjal yang muncul pagi hari

Jika Bunda mengalami beberapa tanda di bawah ini segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

1. Wajah bengkak dan mata sembap

Mengutip The Health Site, salah satu tanda awal yang sering terjadi adalah pembengkakan pada wajah atau mata sembap pagi hari. Hal ini disebabkan oleh retensi cairan akibat ketidakseimbangan fungsi ginjal dalam mengatur kadar natrium dan cairan tubuh.

Ketika ginjal tidak mampu bekerja dengan baik, kelebihan cairan menumpuk di jaringan tubuh, terutama area wajah dan mata setelah semalaman tidur. Jika pembengkakan ini terjadi secara terus-menerus tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

2. Urine berbusa

Perubahan pada urine juga bisa menjadi indikator adanya masalah pada ginjal. Urine yang berbusa atau berbuih saat pagi hari dapat menandakan kebocoran protein ke dalam urine, suatu kondisi yang dikenal sebagai proteinuria.

Ginjal yang sehat seharusnya mampu menyaring limbah tanpa membuang protein penting bagi tubuh. Jika kondisi ini terus berlangsung bisa jadi ginjal sedang mengalami gangguan fungsi yang perlu segera ditangani.

3. Merasa lelah dan sulit konsentrasi pada pagi hari

Bangun tidur dengan rasa lelah yang berlebihan atau sulit berkonsentrasi bisa menjadi tanda adanya gangguan pada ginjal. Ginjal yang tidak bekerja optimal menyebabkan penumpukan racun dalam darah sehingga tubuh merasa lelah meskipun sudah beristirahat cukup.

Selain itu, kadar oksigen dalam darah juga bisa menurun yang berdampak pada fungsi otak. Ini menyebabkan Bunda sulit berkonsentrasi bahkan mengalami kabut otak (brain fog).

4. Kulit kering dan gatal

Ginjal berperan dalam menjaga keseimbangan mineral dan membuang racun dari dalam tubuh. Ketika fungsinya terganggu, racun dapat menumpuk dalam darah dan menyebabkan kulit menjadi kering serta gatal.

Kondisi ini biasanya lebih terasa saat pagi hari karena tubuh mengalami dehidrasi semalaman. Jika Bunda sering mengalami kulit kering yang tidak membaik meski sudah menggunakan pelembap, bisa jadi ini merupakan tanda awal gangguan ginjal.

5. Napas dan mulut berbau tidak sedap

Bau mulut yang tidak sedap di pagi hari bisa lebih dari sekadar masalah kebersihan gigi. Kalau ginjal tidak mampu membuang limbah dengan baik, racun menumpuk dalam darah dan menyebabkan kondisi yang disebut uremic fetor, di mana napas berbau seperti amonia atau logam.

Bau mulut yang tidak membaik meskipun sudah menyikat gigi dan berkumur bisa menjadi pertanda serius adanya gangguan ginjal.