Monday, October 27, 2025

7 Gejala Awal Ginjal Bermasalah, Termasuk Bisa Dilihat di Kaki, Mata, dan Kulit

KOMPAS.com - Ginjal adalah salah satu organ penting bagi tubuh yang berfungsi menyaring racun dan limbah, lalu membuangnya melalui urine.

Organ vital tersebut juga memiliki peran dalam menjaga kadar kolesterol, tekanan, dan gula darah seseorang.

Dokter transplantasi dan konsultasi nefrologi, dr. Sonusing Patil, meyakinkan bahwa mengenali tanda masalah ginjal sejak dini dapat membuat perbedaan signifikan dalam penanganan medis.

"Deteksi dini dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit, mencegah kerusakan lebih lanjut dan meningkatkan hasil kesehatan jangka panjang,” kata dia, dikutip dari Hindustan Times (12/4/2025).

Dengan pengobatan yang tepat waktu, penyakit ginjal sering kali dapat ditangani secara efektif. Bahkan dalam beberapa kasus, perkembangan penyakit itu dapat dihentikan.

Selain itu, diagnosis dini memungkinkan pasien mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan fungsi ginjal.

Hal itu termasuk menghindari kebutuhan akan perawatan yang lebih invasif seperti dialisis atau transplantasi ginjal.

Baca juga: Dokter Ungkap Jenis Cacing Ini Bisa Menginfeksi Ginjal dan Liver, Apa Gejalanya?

Tanda awal ginjal bermasalah

dr. Patl mengungkapkan, berikut adalah sejumlah gejala ginjal bermasalah yang bisa dialami seseorang:

1. Perubahan buang air kecil


Perubahan pola buang air kecil adalah salah satu tanda awal yang paling nyata dari ginjal seseorang bermasalah.

Perubahan ini dapat meliputi:

  • Peningkatan buang air kecil, terutama pada malam hari (nokturia)
  • Urine berwarna gelap atau coklat
  • Urine berbusa atau berbuih yang mengindikasikan adanya protein
  • Ada darah di dalam darah (hematuria).

2. Kulit gatal

Ketika produk limbah menumpuk di dalam tubuh karena fungsi ginjal yang buruk, hal ini dapat menyebabkan rasa gatal yang parah, terutama pada kaki, lengan, dan punggung.

Selain itu, filter ginjal yang rusak memungkinkan protein bocor ke dalam urin, menyebabkan retensi cairan dan bengkak, terutama di sekitar mata.

3. Kaki bengkak

Kaki atau bagian pergelangannya bengkak menjadi salah satu tanda penyakit ginjal yang dirasakan oleh penderita.

Hal tersebut terjadi ketika berkurangnya atau menurunnya fungsi ginjal yang dapat menyebabkan retensi natrium.

Baca juga: Jarang Disadari, Ini 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Menyebabkan Kanker Ginjal

4. Kehilangan nafsu makan

Penyakit ginjal dapat mengakibatkan seseorang kehilangan nafsu makannya hingga memicu penurunan berat badan.

Selain itu, ginjal bermasalah juga dapat memicu seseorang mual dan bahkan muntah. Sebab, ginjal tidak dapat menyaring racun tubuh dengan baik.

5. Lelah terus-menerus

Penurunan fungsi ginjal bisa menyebabkan penumpukan racun dalam tubuh, yang mengakibatkan kelelahan dan kelemahan berkelanjutan.

Selain itu, penyakit ginjal dapat menyebabkan anemia yang pada gilirannya berkontribusi terhadap perasaan lelah.

6. Bengkak di sekitar mata

Mata bengkak bisa menjadi salah satu gejala ginjal bermasalah, terutama pada stadium awal atau saat terjadi gangguan fungsi ginjal.

Ginjal yang bermasalah tidak dapat menyaring cairan dan protein dalam tubuh secara efektif sebagaimana mestinya.

Sehingga, bakal terjadi penumpukan cairan dan protein yang salah satunya menyebabkan pembengkakan di sekitar mata.

7. Kram otot

Kram otot bisa menjadi salah satu pertanda ginjal seseorang mengalami masalah. Meski begitu, perlu diingat bahwa kram otot bisa disebabkan oleh faktor lain.

Ginjal yang bermasalah diketahui tidak dapat menjaga keseimbangan kadar elektrolit seperti kalsium, kalium, dan natrium dengan baik. Ketidakseimbangan elektrolit itu bisa memicu kram otot.

Cara menjaga kesehatan ginjal

Secara singkat, berikut adalah cara menjaga ginjal agar tetap sehat yang baik diterapkan oleh siapa saja:

  • Cukup terhidrasi
  • Hindari konsumsi makanan tinggi lemak dan purin
  • Olahraga teratur
  • Berhenti merokok
  • Mengecek kesehatan ginjal secara rutin.

5 Kelompok Orang yang Sebaiknya Menghindari Konsumsi Pepaya: Waspadai Risiko Kesehatannya!

 JawaPos.com - Pepaya memang dikenal sebagai buah tropis yang kaya akan manfaat, mulai dari membantu pencernaan hingga meningkatkan daya tahan tubuh berkat kandungan vitamin C dan enzim papainnya.

Namun, di balik segudang khasiatnya tersebut, tidak semua orang bisa dengan bebas menikmati pepaya.


Bagi sebagian kelompok tertentu, buah pepaya ini justru dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi tanpa peringatan.

Oleh karena itu, penting untuk memahami siapa saja yang termasuk dalam kelompok berisiko ini agar konsumsi pepaya tetap aman dan tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.

Dilansir dari laman Times of India pada Minggu (26/10), berikut merupakan 5 kelompok orang yang sebaiknya menghindari konsumsi pepaya.

Baca Juga: 7 Cara Hidup Orang yang Tenang dan Cerdas Emosinya yang Membuat Mereka Bahagia dan Disukai

1. Ibu Hamil

Bagi ibu hamil, terutama pada trimester awal kehamilan, mengonsumsi pepaya mentah atau setengah matang sangat tidak disarankan.

Hal ini karena pepaya yang belum matang mengandung lateks dan enzim papain dalam kadar tinggi.

Kedua zat tersebut dapat merangsang kontraksi pada rahim, yang berpotensi memicu persalinan dini atau bahkan keguguran jika dikonsumsi secara berlebihan.

Lateks dalam pepaya juga dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang.

Meskipun pepaya yang sudah matang umumnya lebih aman karena kadar papainnya jauh berkurang, banyak ahli kesehatan menyarankan ibu hamil untuk menghindari pepaya sepenuhnya demi keamanan janin.

Risiko yang mungkin terjadi jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh, sehingga langkah paling bijak adalah menunggu hingga masa kehamilan selesai sebelum kembali menikmati buah pepaya.

2. Penderita Gangguan Irama Jantung

Bagi individu yang memiliki gangguan irama jantung atau penyakit jantung lainnya, konsumsi pepaya perlu diperhatikan dengan sangat hati-hati.

Pepaya mengandung senyawa sianogenik, yaitu senyawa alami yang dapat melepaskan sedikit gas hidrogen sianida di dalam tubuh.

Dalam jumlah kecil, zat ini tidak berbahaya bagi kebanyakan orang, namun pada penderita jantung, efeknya bisa lebih sensitif.

Selain itu, konsumsi pepaya berlebihan dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat jantung, sehingga membuat pengobatan menjadi kurang efektif.

Karena itu, bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memasukkan pepaya ke dalam menu harian agar tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang Lanjut Usia yang Membuatnya Semakin Tidak Disukai, Tanpa Disadari

3. Penderita Hipotiroidisme (Tiroid Rendah)

Bagi penderita hipotiroidisme atau gangguan tiroid dengan kadar hormon rendah, pepaya termasuk buah yang perlu diwaspadai.

Pepaya mengandung zat alami yang disebut goitrogen. Zat ini dapat menghambat kemampuan kelenjar tiroid dalam menyerap yodium, padahal yodium sangat penting untuk pembentukan hormon tiroid.

Jika penyerapan yodium terganggu, maka produksi hormon tiroid bisa menurun, sehingga memperburuk gejala hipotiroidisme seperti mudah lelah, berat badan naik, kulit kering, atau tubuh terasa dingin.

Selain itu, pepaya juga dikhawatirkan bisa berinteraksi dengan obat-obatan tiroid yang sedang dikonsumsi, sehingga dapat memengaruhi efektivitas dari obat tersebut.

Meskipun penelitian tentang hal ini masih berlanjut, konsultasi dengan dokter tetap sangat dianjurkan sebelum penderita hipotiroid rutin mengonsumsi pepaya.

Dengan pengawasan medis yang tepat, pasien dapat menjaga kadar hormon tetap seimbang dan mencegah gejala penyakit menjadi semakin parah.

4. Orang yang Rentan Terkena Batu Ginjal

Pepaya memang kaya akan vitamin C, namun bagi orang yang rentan mengalami batu ginjal, kandungan ini justru perlu diwaspadai.

Ketika tubuh menerima vitamin C dalam jumlah berlebih, sebagian akan diubah menjadi oksalat.

Zat oksalat ini dapat bergabung dengan kalsium dan membentuk kristal kalsium oksalat, yaitu penyebab utama terbentuknya batu ginjal.

Menurut penelitian dari National Kidney Foundation, orang dengan riwayat batu ginjal sebaiknya tidak mengonsumsi makanan tinggi vitamin C terlalu sering, termasuk pepaya.

Jika tetap ingin mengonsumsinya, lakukan dalam porsi kecil dan pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan setiap hari untuk membantu proses penyaringan di ginjal.

Selain itu, penderita batu ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan pola makan yang tepat agar bisa tetap menikmati buah dengan aman tanpa memperparah kondisi ginjalnya.

5. Orang dengan Alergi Lateks

Pepaya ternyata memiliki struktur protein yang mirip dengan protein yang ditemukan dalam lateks alami.

Menurut penelitian, pepaya mengandung enzim kitinase (chitinase), yaitu protein yang dapat memicu reaksi alergi pada individu yang sensitif terhadap lateks.

Orang dengan alergi lateks biasanya mengalami gejala seperti bersin-bersin, ruam merah, gatal di kulit, atau bahkan pembengkakan pada wajah dan tenggorokan setelah makan pepaya.

Dalam kasus yang lebih parah, reaksi alergi tersebut bisa menyebabkan gangguan pernapasan yang berbahaya.

Karena itu, bagi siapa pun yang sudah diketahui memiliki alergi lateks, sebaiknya menghindari pepaya sama sekali, meskipun hanya dalam jumlah kecil.

Menghindari konsumsi pepaya akan jauh lebih aman daripada harus menghadapi risiko reaksi alergi berat yang bisa mengancam keselamatan.


Wednesday, October 22, 2025

Gejala Kerusakan Hati

Gejala kerusakan hati Dilansir dari GoodRx, berikut ini sejumlah gejala yang timbul ketika seseorang menderita kerusakan hati: 

  1. Nyeri perut 
  2. Perut bengkak atau kembung 
  3. Urine berwarna gelap 
  4. Mual atau muntah 
  5. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan 
  6. Kulit dan mata menguning (penyakit kuning).

 Meski begitu, kerusakan hati tidak selalu disertai gejala dan seseorang mungkin tidak mengetahui bahwa gejala yang timbul adalah karena masalah pada livernya.


5 Suplemen yang Bisa Berdampak Buruk pada Hati, Apa Saja?

 

KOMPAS.com - Sejumlah suplemen bisa berdampak buruk pada liver atau hati, meski dapat memberikan manfaat pada organ tubuh lainnya. Hal itu dikarenakan suplemen-suplemen ini mengandung senyawa tertentu yang akan bereaksi pada liver. Masalah tersebut semakin diperparah jika sudah terdapat masalah pada hati. Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar terhindar dari efek samping minum suplemen.

5 suplemen yang berdampak buruk pada hati Dikutip dari BestLife, berikut setidaknya lima suplemen yang bisa berdampak buruk pada hati menurut pakar: 

1. Ekstrak teh hijau 

Suplemen pertama yang bisa berdampak buruk pada hati yakni ekstrak teh hijau. Ini adalah salah satu suplemen populer yang banyak dikonsumsi guna meningkatkan kesehatan jantung dan membantu program diet.

“Sayangnya, saat ini tidak diketahui mengapa hal itu menyebabkan kerusakan hati pada beberapa orang dan tidak pada orang lain,” ucap dokter Leann Poston. Sementara ahli gizi Sarah Alsing mengingatkan, suplemen ini bisa dikonsumsi tanpa disadari dan tiba-tiba membahayakan liver. Sebab, ekstrak teh hijau adalah bahan umum yang ada di dalam pil diet. “Jika Anda mencari suplemen yang diiklankan untuk menurunkan berat badan, pastikan Anda membaca labelnya untuk mengetahui kandungannya,” tutur Alsing.

2. Vitamin B3 

Alsing menungkapkan, suplementasi vitamin B3 atau dikenal sebagai niasin ini dapat bermanfaat untuk mengontrol stres, meningkatkan energi, dan melancarkan sirkulasi darah. “Niasin juga membantu mengontrol kolesterol. Namun, niasin dosis tinggi dapat merusak hati,” ungkap Alsing. Tak sampai di situ, vitamin ini juga memengaruhi koagulasi, yang merupakan cara tubuh  mencegah pendarahan berlebihan.

3. Vitamin A 

Lebih lanjut, suplemen lain yang bisa memicu kerusakan pada hati adalah vitamin A atau juga dikenal dengan retinol.

Alsing menyampaikan, vitamin ini memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan mata dan kekebalan tubuh seseorang.

Namun, menurut Poston, suplementasi vitamin A tersebut bisa menjadi racun jika dikonsumsi berlebihan.

“Dosis vitamin A yang termasuk dalam tunjangan harian yang direkomendasikan (RDA) tidak terkait dengan cedera hati,” kata Poston. “Namun, dosis yang lebih dari 100 kali AKG (angka kecukupan gizi) dapat menyebabkan cedera hati akut. Vitamin A yang berlebihan dapat merusak sel-sel hati khusus, menyebabkan jaringan parut dan cedera hati,” sambungnya.

4. Cohosh hitam 

Cohosh hitam adalah salah satu obat herbal tradisional yang dapat menimbulkan risiko kesehatan, salah satunya pada liver.

“Ada laporan kasus yang mengaitkan suplemen herbal black cohosh dengan cedera hati,” kata ahli medis Nesochi Okeke-Igbokwe. Meski begitu, diperlukan penelitian lebih lanjut dalam konsumsi suplemen ini yang bisa memberikan efek samping berupa hepatotoksisitas itu.

5. Kava 

Spesialis dukungan klinis Danielle Arnold menerangkan, akar kava tanah secara tradisional telah digunakan di wilayah kepulauan Polinesia selama ribuan tahun sebagai pengganti alkohol. Kava ini memiliki kemampuan yang diklaim dapat mengurangi kecemasan, membantu relaksasi, dan meningkatkan kualitas tidur yang lebih nyenyak. “Namun, sama seperti alkohol, hal ini dapat membahayakan hati jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak,” terang Arnold.


10 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Merusak Liver Tanpa Disadari, Apa Saja?

KOMPAS.com - Liver atau hati adalah organ vital yang berada tepat di bawah tulang rusuk di sisi kanan perut.

Organ ini diperlukan untuk membantu mencerna makanan, membersihkan tubuh dari produk limbah, dan membuat zat yang disebut faktor pembekuan yang menjaga agar darah tetap mengalir dengan baik. Jika liver tidak dijaga dengan baik, maka sistem metabolisme juga akan menurun dengan signifikan.

Dilansir dari Mayo Clinic, penyakit liver dapat diturunkan melalui keluarga atau diwariskan.

Selain itu, apa pun yang merusak hati juga dapat menyebabkan masalah liver, termasuk virus, penggunaan alkohol, dan obesitas.

Seiring waktu, kondisi yang merusak liver ini dapat menyebabkan jaringan parut yang disebut sirosis. Sirosis dapat menyebabkan gagal hati, suatu kondisi yang mengancam jiwa.

Dicukil dari Times of India, Senin (17/2/2025), terlepas dari kemampuan liver yang luar biasa untuk menyembuhkan dirinya sendiri, paparan terus-menerus dari kebiasaan berbahaya dapat melemahkannya dari waktu ke waktu.

Bagian yang menakutkan dari ini adalah, beberapa dari kita tanpa sadar melakukan aktivitas sehari-hari yang membahayakan liver tersebut.

Lantas, kebiasaan apa saja itu?

Berikut ini 10 kebiasaan sehari-hari yang bisa merusak liver:

1. Terlalu banyak konsumsi gula 

Mengonsumsi terlalu banyak gula tak hanya dapat membahayakan gigi atau memicu kenaikan berat badan. Kelebihan gula di dalam tubuh juga dapat menyebabkan liver seseorang menjadi rusak atau tidak bekerja dengan baik.

Ketika seseorang mengonsumsi gula rafinasi (terutama fruktosa) berlebihan, hati mengubahnya menjadi lemak.

Seiring waktu, hal tersebut dapat mengakibatkan penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), penyebab utama kerusakan hati di seluruh dunia.

2. Terlalu sering konsumsi painkiller

Seseorang mungkin terlalu sering mengonsumsi obat painkiller atau penghilang rasa sakit untuk mengatasi sakit kepala, nyeri otot, atau demam.

Padahal, penggunaan asetaminofen (parasetamol) secara berlebihan dapat menjadi racun bagi liver.

Bahkan overdosis kecil obat penghilang rasa sakit pun dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius.

Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar tidak menimbulkan efek samping yang merugikan.

3. Kurang minum

Seseorang yang meminum air putih terlalu sedikit, dapat membahayakan livernya. Karena saat seseorang dehidrasi, liver akan kesulitan mengeluarkan racun dari tubuh.

Ketika seseorang tidak cukup minum, racun lama-kelamaan akan menumpuk dan memberikan tekanan kerja lebih tinggi pada hati.

4. Konsumsi alkohol berlebihan

Alkohol adalah salah satu zat yang merusak liver, bahkan jika hanya meminumnya sesekali.

Terlebih apabila minum alkohol terlalu banyak, maka dapat merusak hati dengan cepat. Kerusakan tersebut seperti hati berlemak, peradangan, dan sirosis.

5. Terlalu banyak makanan olahan dan gorengan

Terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan dan gorengan juga dapat menyebabkan liver mudah rusak.

Makanan-makanan tersebut diketahui tinggi akan lemak trans dan pengawet, yang dapat memperberat kerja hati.

Lemak ini akan menyebabkan penumpukan lemak dan peradangan, meningkatkan risiko penyakit hati berlemak.

6. Diet ekstrem

Diet yang dilakukan secara ekstrem tanpa terkontrol juga dapat membahayakan liver.

Pasalnya, diet ekstrem dapat memperlambat proses metabolisme dan menyebabkan akumulasi lemak di hati.

Selain itu, diet ekstrem dengan mengurangi berbagai nutrisi penting juga akan melemahkan fungsi hati dari waktu ke waktu.

Baca juga: Gejala Penyakit Liver Itu seperti Apa? Berikut 6 Daftarnya yang Jarang Disadari

7. Kurang tidur

Seseorang yang kekurangan waktu dan kualitas tidurnya, dapat membahayakan livernya.

Tidur adalah fase di mana hati memperbaiki dan meregenerasi dirinya sendiri. Oleh karena itu, tidur adalah aspek penting dalam menjaga kesehatan.

Kurang tidur kronis meningkatkan stres oksidatif dan peradangan, kemudian bisa mengakibatkan penyakit hati.

8. Terlalu banyak kopi atau minuman berenergi

Mengonsumsi kopi dalam kadar sedang sebenarnya memberikan manfaat untuk liver seseorang.

Namun konsumsi kafein yang berlebihan, terutama minuman energi yang penuh dengan gula, dapat mengakibatkan peradangan hati.

9. Tidak mencuci buah dan sayur dengan benar

Seseorang yang tidak mencuci buah-buahan dan sayuran dengan benar dapat membahayakan livernya sendiri.

Pasalnya, banyak buah-buahan dan sayuran di pasaran terlapisi pestisida dan bahan kimia lain yang dapat membebani liver.

Mengonsumsi pestisida dan bahan kimia tersebut secara rutin dapat meningkatkan akumulasi toksin, membuat proses detoksifikasi lebih sulit dilakukan oleh hati.

10. Jarang beraktivitas fisik

Jarang beraktivitas secara fisik atau berolahraga juga dapat menyebabkan liver seseorang menjadi rusak.

Kurangnya aktivitas fisik berkontribusi dalam seseorang menderita obesitas dan penyakit hati berlemak.

Sementara berolahraga, bisa membantu hati memproses lemak secara efisien dan mencegah terjadinya peradangan.

Monday, October 6, 2025

Perut Buncit Apakah Jadi Indikator Seseorang Mengalami Obesitas dan Kegemukan? Ahli Gizi Menjawab

 

Perut Buncit Apakah Jadi Indikator Seseorang Mengalami Obesitas dan Kegemukan? Ahli Gizi Menjawab



TRIBUNHEALTH.COM
 - Perut buncit merupakan salah satu masalah penampilan yang terasa mengganggu.

Buncit identik dengan berat badan yang tinggi atau gemuk.

Namun benarkah orang yang buncit sudah pasti obesitas?

TribunHealth.com pernah menanyakan hal ini kepada Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S.Gz, ketika menjadi program Healthy Talk.

Berikut ini jawabannya dalam kutipan langsung:

"Orang yang perutnya buncit belum tentu status gizinya obesitas.

Jadi mungkin mepet-mepet lah ya.

Masih normal tapi perutnya memang penumpukan lemaknya di perut.

Untuk menentukan dia obesitas atau gemuk, satu sisi tetap dilakukan perhitungan dari berat badan dan tinggi badan.

Jadi namanya ada body image jadi pawakannya dia kelihatannya kelihatan gendut ini nih.

Padahal gendutnya di daerah tertentu saja, tapi setelah diukur status gizinya dia masih dalam kondisi normal."

Simak perbincangan dengan Ahli Gizi R. Radyan Yaminar, S.Gz mengenai “Bahaya Perut Buncit dan Cara Mengatasinya” dalam tayangan YouTube berikut ini.