Monday, October 27, 2025

7 Gejala Awal Ginjal Bermasalah, Termasuk Bisa Dilihat di Kaki, Mata, dan Kulit

KOMPAS.com - Ginjal adalah salah satu organ penting bagi tubuh yang berfungsi menyaring racun dan limbah, lalu membuangnya melalui urine.

Organ vital tersebut juga memiliki peran dalam menjaga kadar kolesterol, tekanan, dan gula darah seseorang.

Dokter transplantasi dan konsultasi nefrologi, dr. Sonusing Patil, meyakinkan bahwa mengenali tanda masalah ginjal sejak dini dapat membuat perbedaan signifikan dalam penanganan medis.

"Deteksi dini dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit, mencegah kerusakan lebih lanjut dan meningkatkan hasil kesehatan jangka panjang,” kata dia, dikutip dari Hindustan Times (12/4/2025).

Dengan pengobatan yang tepat waktu, penyakit ginjal sering kali dapat ditangani secara efektif. Bahkan dalam beberapa kasus, perkembangan penyakit itu dapat dihentikan.

Selain itu, diagnosis dini memungkinkan pasien mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan fungsi ginjal.

Hal itu termasuk menghindari kebutuhan akan perawatan yang lebih invasif seperti dialisis atau transplantasi ginjal.

Baca juga: Dokter Ungkap Jenis Cacing Ini Bisa Menginfeksi Ginjal dan Liver, Apa Gejalanya?

Tanda awal ginjal bermasalah

dr. Patl mengungkapkan, berikut adalah sejumlah gejala ginjal bermasalah yang bisa dialami seseorang:

1. Perubahan buang air kecil


Perubahan pola buang air kecil adalah salah satu tanda awal yang paling nyata dari ginjal seseorang bermasalah.

Perubahan ini dapat meliputi:

  • Peningkatan buang air kecil, terutama pada malam hari (nokturia)
  • Urine berwarna gelap atau coklat
  • Urine berbusa atau berbuih yang mengindikasikan adanya protein
  • Ada darah di dalam darah (hematuria).

2. Kulit gatal

Ketika produk limbah menumpuk di dalam tubuh karena fungsi ginjal yang buruk, hal ini dapat menyebabkan rasa gatal yang parah, terutama pada kaki, lengan, dan punggung.

Selain itu, filter ginjal yang rusak memungkinkan protein bocor ke dalam urin, menyebabkan retensi cairan dan bengkak, terutama di sekitar mata.

3. Kaki bengkak

Kaki atau bagian pergelangannya bengkak menjadi salah satu tanda penyakit ginjal yang dirasakan oleh penderita.

Hal tersebut terjadi ketika berkurangnya atau menurunnya fungsi ginjal yang dapat menyebabkan retensi natrium.

Baca juga: Jarang Disadari, Ini 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Menyebabkan Kanker Ginjal

4. Kehilangan nafsu makan

Penyakit ginjal dapat mengakibatkan seseorang kehilangan nafsu makannya hingga memicu penurunan berat badan.

Selain itu, ginjal bermasalah juga dapat memicu seseorang mual dan bahkan muntah. Sebab, ginjal tidak dapat menyaring racun tubuh dengan baik.

5. Lelah terus-menerus

Penurunan fungsi ginjal bisa menyebabkan penumpukan racun dalam tubuh, yang mengakibatkan kelelahan dan kelemahan berkelanjutan.

Selain itu, penyakit ginjal dapat menyebabkan anemia yang pada gilirannya berkontribusi terhadap perasaan lelah.

6. Bengkak di sekitar mata

Mata bengkak bisa menjadi salah satu gejala ginjal bermasalah, terutama pada stadium awal atau saat terjadi gangguan fungsi ginjal.

Ginjal yang bermasalah tidak dapat menyaring cairan dan protein dalam tubuh secara efektif sebagaimana mestinya.

Sehingga, bakal terjadi penumpukan cairan dan protein yang salah satunya menyebabkan pembengkakan di sekitar mata.

7. Kram otot

Kram otot bisa menjadi salah satu pertanda ginjal seseorang mengalami masalah. Meski begitu, perlu diingat bahwa kram otot bisa disebabkan oleh faktor lain.

Ginjal yang bermasalah diketahui tidak dapat menjaga keseimbangan kadar elektrolit seperti kalsium, kalium, dan natrium dengan baik. Ketidakseimbangan elektrolit itu bisa memicu kram otot.

Cara menjaga kesehatan ginjal

Secara singkat, berikut adalah cara menjaga ginjal agar tetap sehat yang baik diterapkan oleh siapa saja:

  • Cukup terhidrasi
  • Hindari konsumsi makanan tinggi lemak dan purin
  • Olahraga teratur
  • Berhenti merokok
  • Mengecek kesehatan ginjal secara rutin.

5 Kelompok Orang yang Sebaiknya Menghindari Konsumsi Pepaya: Waspadai Risiko Kesehatannya!

 JawaPos.com - Pepaya memang dikenal sebagai buah tropis yang kaya akan manfaat, mulai dari membantu pencernaan hingga meningkatkan daya tahan tubuh berkat kandungan vitamin C dan enzim papainnya.

Namun, di balik segudang khasiatnya tersebut, tidak semua orang bisa dengan bebas menikmati pepaya.


Bagi sebagian kelompok tertentu, buah pepaya ini justru dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi tanpa peringatan.

Oleh karena itu, penting untuk memahami siapa saja yang termasuk dalam kelompok berisiko ini agar konsumsi pepaya tetap aman dan tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.

Dilansir dari laman Times of India pada Minggu (26/10), berikut merupakan 5 kelompok orang yang sebaiknya menghindari konsumsi pepaya.

Baca Juga: 7 Cara Hidup Orang yang Tenang dan Cerdas Emosinya yang Membuat Mereka Bahagia dan Disukai

1. Ibu Hamil

Bagi ibu hamil, terutama pada trimester awal kehamilan, mengonsumsi pepaya mentah atau setengah matang sangat tidak disarankan.

Hal ini karena pepaya yang belum matang mengandung lateks dan enzim papain dalam kadar tinggi.

Kedua zat tersebut dapat merangsang kontraksi pada rahim, yang berpotensi memicu persalinan dini atau bahkan keguguran jika dikonsumsi secara berlebihan.

Lateks dalam pepaya juga dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang.

Meskipun pepaya yang sudah matang umumnya lebih aman karena kadar papainnya jauh berkurang, banyak ahli kesehatan menyarankan ibu hamil untuk menghindari pepaya sepenuhnya demi keamanan janin.

Risiko yang mungkin terjadi jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh, sehingga langkah paling bijak adalah menunggu hingga masa kehamilan selesai sebelum kembali menikmati buah pepaya.

2. Penderita Gangguan Irama Jantung

Bagi individu yang memiliki gangguan irama jantung atau penyakit jantung lainnya, konsumsi pepaya perlu diperhatikan dengan sangat hati-hati.

Pepaya mengandung senyawa sianogenik, yaitu senyawa alami yang dapat melepaskan sedikit gas hidrogen sianida di dalam tubuh.

Dalam jumlah kecil, zat ini tidak berbahaya bagi kebanyakan orang, namun pada penderita jantung, efeknya bisa lebih sensitif.

Selain itu, konsumsi pepaya berlebihan dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat jantung, sehingga membuat pengobatan menjadi kurang efektif.

Karena itu, bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memasukkan pepaya ke dalam menu harian agar tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang Lanjut Usia yang Membuatnya Semakin Tidak Disukai, Tanpa Disadari

3. Penderita Hipotiroidisme (Tiroid Rendah)

Bagi penderita hipotiroidisme atau gangguan tiroid dengan kadar hormon rendah, pepaya termasuk buah yang perlu diwaspadai.

Pepaya mengandung zat alami yang disebut goitrogen. Zat ini dapat menghambat kemampuan kelenjar tiroid dalam menyerap yodium, padahal yodium sangat penting untuk pembentukan hormon tiroid.

Jika penyerapan yodium terganggu, maka produksi hormon tiroid bisa menurun, sehingga memperburuk gejala hipotiroidisme seperti mudah lelah, berat badan naik, kulit kering, atau tubuh terasa dingin.

Selain itu, pepaya juga dikhawatirkan bisa berinteraksi dengan obat-obatan tiroid yang sedang dikonsumsi, sehingga dapat memengaruhi efektivitas dari obat tersebut.

Meskipun penelitian tentang hal ini masih berlanjut, konsultasi dengan dokter tetap sangat dianjurkan sebelum penderita hipotiroid rutin mengonsumsi pepaya.

Dengan pengawasan medis yang tepat, pasien dapat menjaga kadar hormon tetap seimbang dan mencegah gejala penyakit menjadi semakin parah.

4. Orang yang Rentan Terkena Batu Ginjal

Pepaya memang kaya akan vitamin C, namun bagi orang yang rentan mengalami batu ginjal, kandungan ini justru perlu diwaspadai.

Ketika tubuh menerima vitamin C dalam jumlah berlebih, sebagian akan diubah menjadi oksalat.

Zat oksalat ini dapat bergabung dengan kalsium dan membentuk kristal kalsium oksalat, yaitu penyebab utama terbentuknya batu ginjal.

Menurut penelitian dari National Kidney Foundation, orang dengan riwayat batu ginjal sebaiknya tidak mengonsumsi makanan tinggi vitamin C terlalu sering, termasuk pepaya.

Jika tetap ingin mengonsumsinya, lakukan dalam porsi kecil dan pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan setiap hari untuk membantu proses penyaringan di ginjal.

Selain itu, penderita batu ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan pola makan yang tepat agar bisa tetap menikmati buah dengan aman tanpa memperparah kondisi ginjalnya.

5. Orang dengan Alergi Lateks

Pepaya ternyata memiliki struktur protein yang mirip dengan protein yang ditemukan dalam lateks alami.

Menurut penelitian, pepaya mengandung enzim kitinase (chitinase), yaitu protein yang dapat memicu reaksi alergi pada individu yang sensitif terhadap lateks.

Orang dengan alergi lateks biasanya mengalami gejala seperti bersin-bersin, ruam merah, gatal di kulit, atau bahkan pembengkakan pada wajah dan tenggorokan setelah makan pepaya.

Dalam kasus yang lebih parah, reaksi alergi tersebut bisa menyebabkan gangguan pernapasan yang berbahaya.

Karena itu, bagi siapa pun yang sudah diketahui memiliki alergi lateks, sebaiknya menghindari pepaya sama sekali, meskipun hanya dalam jumlah kecil.

Menghindari konsumsi pepaya akan jauh lebih aman daripada harus menghadapi risiko reaksi alergi berat yang bisa mengancam keselamatan.


Wednesday, October 22, 2025

Gejala Kerusakan Hati

Gejala kerusakan hati Dilansir dari GoodRx, berikut ini sejumlah gejala yang timbul ketika seseorang menderita kerusakan hati: 

  1. Nyeri perut 
  2. Perut bengkak atau kembung 
  3. Urine berwarna gelap 
  4. Mual atau muntah 
  5. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan 
  6. Kulit dan mata menguning (penyakit kuning).

 Meski begitu, kerusakan hati tidak selalu disertai gejala dan seseorang mungkin tidak mengetahui bahwa gejala yang timbul adalah karena masalah pada livernya.


5 Suplemen yang Bisa Berdampak Buruk pada Hati, Apa Saja?

 

KOMPAS.com - Sejumlah suplemen bisa berdampak buruk pada liver atau hati, meski dapat memberikan manfaat pada organ tubuh lainnya. Hal itu dikarenakan suplemen-suplemen ini mengandung senyawa tertentu yang akan bereaksi pada liver. Masalah tersebut semakin diperparah jika sudah terdapat masalah pada hati. Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar terhindar dari efek samping minum suplemen.

5 suplemen yang berdampak buruk pada hati Dikutip dari BestLife, berikut setidaknya lima suplemen yang bisa berdampak buruk pada hati menurut pakar: 

1. Ekstrak teh hijau 

Suplemen pertama yang bisa berdampak buruk pada hati yakni ekstrak teh hijau. Ini adalah salah satu suplemen populer yang banyak dikonsumsi guna meningkatkan kesehatan jantung dan membantu program diet.

“Sayangnya, saat ini tidak diketahui mengapa hal itu menyebabkan kerusakan hati pada beberapa orang dan tidak pada orang lain,” ucap dokter Leann Poston. Sementara ahli gizi Sarah Alsing mengingatkan, suplemen ini bisa dikonsumsi tanpa disadari dan tiba-tiba membahayakan liver. Sebab, ekstrak teh hijau adalah bahan umum yang ada di dalam pil diet. “Jika Anda mencari suplemen yang diiklankan untuk menurunkan berat badan, pastikan Anda membaca labelnya untuk mengetahui kandungannya,” tutur Alsing.

2. Vitamin B3 

Alsing menungkapkan, suplementasi vitamin B3 atau dikenal sebagai niasin ini dapat bermanfaat untuk mengontrol stres, meningkatkan energi, dan melancarkan sirkulasi darah. “Niasin juga membantu mengontrol kolesterol. Namun, niasin dosis tinggi dapat merusak hati,” ungkap Alsing. Tak sampai di situ, vitamin ini juga memengaruhi koagulasi, yang merupakan cara tubuh  mencegah pendarahan berlebihan.

3. Vitamin A 

Lebih lanjut, suplemen lain yang bisa memicu kerusakan pada hati adalah vitamin A atau juga dikenal dengan retinol.

Alsing menyampaikan, vitamin ini memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan mata dan kekebalan tubuh seseorang.

Namun, menurut Poston, suplementasi vitamin A tersebut bisa menjadi racun jika dikonsumsi berlebihan.

“Dosis vitamin A yang termasuk dalam tunjangan harian yang direkomendasikan (RDA) tidak terkait dengan cedera hati,” kata Poston. “Namun, dosis yang lebih dari 100 kali AKG (angka kecukupan gizi) dapat menyebabkan cedera hati akut. Vitamin A yang berlebihan dapat merusak sel-sel hati khusus, menyebabkan jaringan parut dan cedera hati,” sambungnya.

4. Cohosh hitam 

Cohosh hitam adalah salah satu obat herbal tradisional yang dapat menimbulkan risiko kesehatan, salah satunya pada liver.

“Ada laporan kasus yang mengaitkan suplemen herbal black cohosh dengan cedera hati,” kata ahli medis Nesochi Okeke-Igbokwe. Meski begitu, diperlukan penelitian lebih lanjut dalam konsumsi suplemen ini yang bisa memberikan efek samping berupa hepatotoksisitas itu.

5. Kava 

Spesialis dukungan klinis Danielle Arnold menerangkan, akar kava tanah secara tradisional telah digunakan di wilayah kepulauan Polinesia selama ribuan tahun sebagai pengganti alkohol. Kava ini memiliki kemampuan yang diklaim dapat mengurangi kecemasan, membantu relaksasi, dan meningkatkan kualitas tidur yang lebih nyenyak. “Namun, sama seperti alkohol, hal ini dapat membahayakan hati jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak,” terang Arnold.


10 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Merusak Liver Tanpa Disadari, Apa Saja?

KOMPAS.com - Liver atau hati adalah organ vital yang berada tepat di bawah tulang rusuk di sisi kanan perut.

Organ ini diperlukan untuk membantu mencerna makanan, membersihkan tubuh dari produk limbah, dan membuat zat yang disebut faktor pembekuan yang menjaga agar darah tetap mengalir dengan baik. Jika liver tidak dijaga dengan baik, maka sistem metabolisme juga akan menurun dengan signifikan.

Dilansir dari Mayo Clinic, penyakit liver dapat diturunkan melalui keluarga atau diwariskan.

Selain itu, apa pun yang merusak hati juga dapat menyebabkan masalah liver, termasuk virus, penggunaan alkohol, dan obesitas.

Seiring waktu, kondisi yang merusak liver ini dapat menyebabkan jaringan parut yang disebut sirosis. Sirosis dapat menyebabkan gagal hati, suatu kondisi yang mengancam jiwa.

Dicukil dari Times of India, Senin (17/2/2025), terlepas dari kemampuan liver yang luar biasa untuk menyembuhkan dirinya sendiri, paparan terus-menerus dari kebiasaan berbahaya dapat melemahkannya dari waktu ke waktu.

Bagian yang menakutkan dari ini adalah, beberapa dari kita tanpa sadar melakukan aktivitas sehari-hari yang membahayakan liver tersebut.

Lantas, kebiasaan apa saja itu?

Berikut ini 10 kebiasaan sehari-hari yang bisa merusak liver:

1. Terlalu banyak konsumsi gula 

Mengonsumsi terlalu banyak gula tak hanya dapat membahayakan gigi atau memicu kenaikan berat badan. Kelebihan gula di dalam tubuh juga dapat menyebabkan liver seseorang menjadi rusak atau tidak bekerja dengan baik.

Ketika seseorang mengonsumsi gula rafinasi (terutama fruktosa) berlebihan, hati mengubahnya menjadi lemak.

Seiring waktu, hal tersebut dapat mengakibatkan penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), penyebab utama kerusakan hati di seluruh dunia.

2. Terlalu sering konsumsi painkiller

Seseorang mungkin terlalu sering mengonsumsi obat painkiller atau penghilang rasa sakit untuk mengatasi sakit kepala, nyeri otot, atau demam.

Padahal, penggunaan asetaminofen (parasetamol) secara berlebihan dapat menjadi racun bagi liver.

Bahkan overdosis kecil obat penghilang rasa sakit pun dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius.

Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar tidak menimbulkan efek samping yang merugikan.

3. Kurang minum

Seseorang yang meminum air putih terlalu sedikit, dapat membahayakan livernya. Karena saat seseorang dehidrasi, liver akan kesulitan mengeluarkan racun dari tubuh.

Ketika seseorang tidak cukup minum, racun lama-kelamaan akan menumpuk dan memberikan tekanan kerja lebih tinggi pada hati.

4. Konsumsi alkohol berlebihan

Alkohol adalah salah satu zat yang merusak liver, bahkan jika hanya meminumnya sesekali.

Terlebih apabila minum alkohol terlalu banyak, maka dapat merusak hati dengan cepat. Kerusakan tersebut seperti hati berlemak, peradangan, dan sirosis.

5. Terlalu banyak makanan olahan dan gorengan

Terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan dan gorengan juga dapat menyebabkan liver mudah rusak.

Makanan-makanan tersebut diketahui tinggi akan lemak trans dan pengawet, yang dapat memperberat kerja hati.

Lemak ini akan menyebabkan penumpukan lemak dan peradangan, meningkatkan risiko penyakit hati berlemak.

6. Diet ekstrem

Diet yang dilakukan secara ekstrem tanpa terkontrol juga dapat membahayakan liver.

Pasalnya, diet ekstrem dapat memperlambat proses metabolisme dan menyebabkan akumulasi lemak di hati.

Selain itu, diet ekstrem dengan mengurangi berbagai nutrisi penting juga akan melemahkan fungsi hati dari waktu ke waktu.

Baca juga: Gejala Penyakit Liver Itu seperti Apa? Berikut 6 Daftarnya yang Jarang Disadari

7. Kurang tidur

Seseorang yang kekurangan waktu dan kualitas tidurnya, dapat membahayakan livernya.

Tidur adalah fase di mana hati memperbaiki dan meregenerasi dirinya sendiri. Oleh karena itu, tidur adalah aspek penting dalam menjaga kesehatan.

Kurang tidur kronis meningkatkan stres oksidatif dan peradangan, kemudian bisa mengakibatkan penyakit hati.

8. Terlalu banyak kopi atau minuman berenergi

Mengonsumsi kopi dalam kadar sedang sebenarnya memberikan manfaat untuk liver seseorang.

Namun konsumsi kafein yang berlebihan, terutama minuman energi yang penuh dengan gula, dapat mengakibatkan peradangan hati.

9. Tidak mencuci buah dan sayur dengan benar

Seseorang yang tidak mencuci buah-buahan dan sayuran dengan benar dapat membahayakan livernya sendiri.

Pasalnya, banyak buah-buahan dan sayuran di pasaran terlapisi pestisida dan bahan kimia lain yang dapat membebani liver.

Mengonsumsi pestisida dan bahan kimia tersebut secara rutin dapat meningkatkan akumulasi toksin, membuat proses detoksifikasi lebih sulit dilakukan oleh hati.

10. Jarang beraktivitas fisik

Jarang beraktivitas secara fisik atau berolahraga juga dapat menyebabkan liver seseorang menjadi rusak.

Kurangnya aktivitas fisik berkontribusi dalam seseorang menderita obesitas dan penyakit hati berlemak.

Sementara berolahraga, bisa membantu hati memproses lemak secara efisien dan mencegah terjadinya peradangan.

Monday, October 6, 2025

Perut Buncit Apakah Jadi Indikator Seseorang Mengalami Obesitas dan Kegemukan? Ahli Gizi Menjawab

 

Perut Buncit Apakah Jadi Indikator Seseorang Mengalami Obesitas dan Kegemukan? Ahli Gizi Menjawab



TRIBUNHEALTH.COM
 - Perut buncit merupakan salah satu masalah penampilan yang terasa mengganggu.

Buncit identik dengan berat badan yang tinggi atau gemuk.

Namun benarkah orang yang buncit sudah pasti obesitas?

TribunHealth.com pernah menanyakan hal ini kepada Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S.Gz, ketika menjadi program Healthy Talk.

Berikut ini jawabannya dalam kutipan langsung:

"Orang yang perutnya buncit belum tentu status gizinya obesitas.

Jadi mungkin mepet-mepet lah ya.

Masih normal tapi perutnya memang penumpukan lemaknya di perut.

Untuk menentukan dia obesitas atau gemuk, satu sisi tetap dilakukan perhitungan dari berat badan dan tinggi badan.

Jadi namanya ada body image jadi pawakannya dia kelihatannya kelihatan gendut ini nih.

Padahal gendutnya di daerah tertentu saja, tapi setelah diukur status gizinya dia masih dalam kondisi normal."

Simak perbincangan dengan Ahli Gizi R. Radyan Yaminar, S.Gz mengenai “Bahaya Perut Buncit dan Cara Mengatasinya” dalam tayangan YouTube berikut ini.


Thursday, September 18, 2025

10 Cara Sederhana Bikin Jantung Sehat, Menurut Dokter

10 Cara Sederhana Bikin Jantung Sehat, Menurut Dokter



KOMPAS.com - Menjaga kesehatan jantung tidak cuma soal pola makan. Faktor emosional, kualitas tidur, dan cara mengelola stres juga kuncinya. 

Dr. Todd Langager, direktur medis kardiovaskular, mengingatkan bahwa banyak hal di sekitar kita yang bisa memengaruhi jantung, termasuk stres dan kekhawatiran, dilansir dari Unitypoint health, Selasa (16/9/2025). 

Ia menekankan pentingnya perawatan menyeluruh agar jantung tetap kuat dan sehat di tengah rutinitas yang padat.

5 hal yang bisa dilakukan untuk jantung yang sehat

1. Konsumsi makanan sehat

Mulailah dengan pola makan yang menyehatkan jantung. Perbanyak buah, sayur, biji-bijian utuh, dan protein seperti kacang-kacangan, ikan, makanan laut, produk susu rendah lemak, dan daging tanpa lemak.

Pilihan makanan tersebut membantu menjaga berat badan ideal sekaligus mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

Pola makan sehat juga menekan konsumsi garam, gula, dan pengawet yang berlebihan.

2. Rutin berolahraga

Aktivitas fisik teratur adalah kunci penting. Targetkan setidaknya 150 menit olahraga intensitas sedang atau 75 menit olahraga berat setiap minggu. Jalan kaki bisa jadi langkah awal yang mudah.

Aktivitas fisik membantu menurunkan tekanan darah, menjaga kadar gula, dan menyeimbangkan berat badan.

3. Berhenti merokok

Jika kamu masih merokok, ini saatnya berhenti. Semua jenis tembakau, termasuk vaping, meningkatkan risiko penyakit jantung, kerusakan arteri, dan pembekuan darah dan aneurisma.

Mulailah konsultasi dengan dokter untuk menemukan cara berhenti yang tepat sesuai dari kondisi tubuh kamu.

4. Tidur yang cukup

Orang dewasa dianjurkan tidur tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Tidur berkualitas mendukung kesehatan jantung dan otak, meningkatkan suasana hati, dan menjaga daya ingat.

5. Periksa kesehatan rutin

Pemeriksaan kesehatan teta penting meski kamu merasa bugar dan sehat. Kolesterol dan tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala.

Dr. Dave Chokshi, dokter spesialis penyakit dalam di NYC Health + Hospitals/Bellevue menekankan, dengan pemeriksaan rutin, dokter bisa mendeteksi masalah lebih awal dan membantu mengelola kondisi seperti diabetes atau berat badan berlebih, dilansir dari NYC Health + Hospitals. 

5 cara meningkatkan emosional jantung

1. Kurangi stres

Carilah cara pas untuk kamu menurunkan stres. Bisa dengan jalan santai di alam, menulis hal-hal yang bikin bersyukur, atau sekadar melakukan aktivitas yang bikin hati tenang.

Mengelola stres membantu menurunkan risiko tekanan darah tinggi dan kebiasaan buruk seperti makan berlebihan atau merokok.

2. Jaga kehidupan sosial

Hubungan sosial yang baik mendukung kesehatan jantung. Menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau hewan peliharaan dapat menurunkan tekanan darah dan menimbulkan perasaan bahagia.

Penelitian menunjukkan interaksi sosial memicu pelepasan hormon oksitosin yang menenangkan detak jantung.

3. Tertawa lebih sering

Tertawa menurunkan hormon stres dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).

Menonton film lucu, bercanda dengan teman, atau sekadar meningat momen menyenangkan bisa menjadi terapi alami bagi jantung.

4. Latih mindfulness

Meditasi harian atau teknik pernapasan dalam terbukti membantu menurunkan risiko tekanan darah tinggi dan menjaga kesehatan arteri.

Luangkanlah waktu untuk akmu relaksasi agar pikiran tetap tenang.

5. Nikmati hobi

Melakukan hobi yang disukai, seperti melukis, berkebun, atau membaca, membantu menurunkan detak jantung dan mengurangi stres.

Aktivitas yang menyenangkan juga menyehatkan otak, yang berperan besar dalam menjaga kesehatan jantung.

Rahasia Kaki Kuat hingga Lansia: Lakukan 7 Kebiasaan Ini Setiap Hari!

Rahasia Kaki Kuat hingga Lansia: Lakukan 7 Kebiasaan Ini Setiap Hari!


PR GAYO - Memiliki kaki yang kuat hingga usia lanjut adalah impian banyak orang.

Kaki yang sehat tidak hanya mendukung mobilitas, tetapi juga mencegah risiko cedera dan penyakit seperti osteoporosis, arthritis, atau nyeri sendi.


Kabar baiknya, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa kamu lakukan setiap hari untuk menjaga kekuatan kaki hingga tua nanti.

Berikut 7 kebiasaan sehari-hari yang bisa membuat kaki tetap kuat dan sehat sepanjang usia:

1. Rutin Berjalan Kaki

Berjalan kaki adalah olahraga paling alami dan efektif untuk melatih otot kaki. Lakukan setidaknya 30 menit setiap hari untuk meningkatkan sirkulasi darah, memperkuat otot, dan menjaga kesehatan sendi.

Tips:

  • Gunakan sepatu yang nyaman.
  • Variasikan medan (jalan datar, tanjakan, atau tangga).
  • Tingkatkan jarak secara bertahap.
2. Peregangan Sebelum dan Sesudah Aktivitas

Peregangan membantu menjaga fleksibilitas otot dan mencegah kram. Fokus pada peregangan betis, paha, dan pinggul untuk mempertahankan mobilitas.

Gerakan yang Direkomendasikan:

  • Calf stretch (berdiri menghadap dinding, satu kaki di depan dan tekuk lutut, kaki belakang lurus).
  • Hamstring stretch (duduk dengan satu kaki lurus, raih jari kaki).
3. Latihan Kekuatan Kaki

Latihan seperti squat, lunges, dan calf raises membantu membangun massa otot dan mencegah penurunan fungsi kaki di usia tua.

Cara Melakukannya:

  • Squat: 3 set × 10-15 repetisi.
  • Calf raises: Berdiri di ujung tangga, angkat tumit lalu turunkan perlahan.
4. Konsumsi Makanan Kaya Kalsium dan Vitamin D

Tulang dan otot yang kuat membutuhkan nutrisi seperti kalsium, vitamin D, magnesium, dan protein.

Sumber Makanan Terbaik:

  • Susu, yogurt, keju.
  • Ikan salmon, sarden.
  • Sayuran hijau (bayam, brokoli).
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian.
5. Jaga Berat Badan Ideal

Berat badan berlebih memberi tekanan ekstra pada kaki dan persendian, meningkatkan risiko nyeri lutut dan arthritis.

Tips Menjaga Berat Badan:

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Hindari gula dan lemak berlebihan.
  • Rutin berolahraga.
6. Gunakan Alas Kaki yang Tepat

Sepatu yang tidak nyaman dapat menyebabkan masalah seperti plantar fasciitis, kapalan, atau nyeri sendi.

Pilihan Alas Kaki yang Baik:

  • Sol empuk dan support lengkung kaki.
  • Hindari heels tinggi untuk aktivitas sehari-hari.
  • Pastikan ukuran pas (tidak terlalu sempit).
7. Istirahatkan Kaki dan Hindari Kebiasaan Buruk

Terlalu lama berdiri atau duduk dapat menyebabkan pembengkakan dan varises.

Yang Harus Dilakukan:

  • Angkat kaki saat tidur untuk mengurangi bengkak.
  • Hindari menyilangkan kaki terlalu lama.
  • Lakukan pijat ringan atau rendam air hangat untuk relaksasi.

Kaki yang kuat hingga lansia bukanlah hal mustahil jika kamu menerapkan 7 kebiasaan sehat ini secara konsisten. Mulailah dari sekarang untuk investasi kesehatan jangka panjang!***

Friday, July 11, 2025

Makanan yang Sebaiknya Dikonsumsi dan Dihindari Penderita Penyakit Ginjal

KOMPAS.com - Penderita penyakit ginjal perlu mengetahui berbagai makanan yang sebaiknya dikonsumsi dan dihindari agar penyakitnya tak berkembang makin parah.

Pemilihan makanan tepat ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi ginjal sekaligus menurunkan risiko penyakit ginjal semakin parah.

Makanan yang sebaiknya dikonsumsi penderita gangguan ginjal

Dikutip dari Healthline, penderita penyakit ginjal sebaiknya mengonsumsi berbagai makanan yang rendah akan kandungan natrium, kalium, fosfor, dan kalsium.

Berikut ini makanan yang sebaiknya dikonsumsi penderita penyakit ginjal:

1. Blueberry

Blueberry adalah salah satu buah kaya akan nutrisi dan antioksidan yang dikenal sebagai antosianin.

Antosianin ini dapat melindungi seseorang dari penyakit jantung, diabetes, dan penyakit lainnya. Blueberry ini juga rendah natrium, fosfor, dan kalium.

Satu cangkir (148 gram) blueberry segar mengandung:

  • Natrium: 1,5 mg
  • Kalium 114 mg
  • Fosfor: 18 mg
  • Protein: 1 gram.

2. Anggur merah

Anggur merah merupakan buah lain yang rendah akan natrium, kalium, fosfor, dan protein.

Selain itu, buah ini juga memiliki kandungan antioksidan bernama flavonoid yang dapat membantu mengurangi peradangan serta melindungi dari penyakit jantung, diabetes, dan kondisi kesehatan lainnya.

Satu setengah cangkir (75 gram) anggur merah mengandung:

  • Natrium: 1,5 mg
  • Kalium: 144 mg
  • Fosfor: 15 mg
  • Protein: 0,5 gram.

3. Cranberry

Buah lain yang sebaiknya dikonsumsi oleh penderita penyakit ginjal adalah cranberry, karena rendah kalium, fosfor, dan natrium.

Buah ini juga mengandung fitonutrien yang disebut proanthocyanidins tipe A. Ini adalah antioksidan yang dapat mencegah infeksi saluran kemih.

Ada hubungan erat antara infeksi saluran kemih (ISK) dan infeksi ginjal. ISK juga dapat menyebabkan komplikasi ginjal.

Satu cangkir (100 gram) cranberry segar utuh mengandung:

  • Natrium: 2 mg
  • Kalium: 80 mg
  • Fosfor: 11 mg
  • Protein: 0,5 gram.

4. Nanas

Nanas dapat menjadi makanan manis bagi penderita penyakit ginjal. Buah ini lebih rendah fosfor, kalium, dan natrium daripada jeruk, pisang, atau kiwi.

Nanas juga merupakan sumber serat dan vitamin C yang baik, serta mengandung bromelain atau enzim yang dapat membantu mengurangi peradangan.

Satu cangkir (165 gram) potongan nanas mengandung:

  • Natrium: 2 mg
  • Kalium: 180 mg
  • Fosfor: 13 mg
  • Protein: 1 gram.

5. Putih telur

Putih telur menyediakan sumber protein berkualitas tinggi yang ramah bagi ginjal dan rendah fosfor. Di sisi lain, kuning telur dapat mengandung fosfor yang tinggi.

Dua putih telur mentah berukuran besar (66 gram) mengandung:

  • Natrium: 110 mg
  • Kalium: 108 mg
  • Fosfor: 10 mg
  • Protein: 7 gram.

6. Ayam tanpa kulit

Ayam tanpa kulit memiliki lebih sedikit lemak, jika dibandingkan ayam dengan kulit. Sehingga ayam tanpa kulit menjadi pilihan ramah untuk ginjal.

Dua atau tiga ons (85 gram) dada ayam tanpa kulit yang dimasak mengandung:

  • Natrium: 64 mg
  • Kalium: 220 mg
  • Fosfor: 196 mg
  • Protein: 27 gram.

7. Lobak

Lobak adalah sayuran yang merupakan tambahan bergizi untuk diet ginjal. Lobak sangat rendah kalium dan fosfor.

Selain itu, sayuran ini mengandung nutrisi penting lainnya, seperti folat dan vitamin C. Rasanya yang pedas menjadi tambahan rasa pada hidangan rendah natrium.

Setengah cangkir (58 gram) lobak iris mengandung:

  • Natrium: 23 mg
  • Kalium 135 mg
  • Fosfor: 12 mg
  • Protein: 0,4 gram.

8. Kubis

Kubis merupakan salah satu sayuran yang kaya akan nutrisi, namun rendah fosfor, kalium, protein, dan natrium

Sayuran ini bermanfaat mengelola gula darah, mengurangi risiko kerusakan ginjal dan hati, serta mencegah stres oksidatif dan obesitas.

Secangkir (70 gram) kubis savoy parut mengandung:

  • Natrium: 6 mg
  • Kalium: 119 mg
  • Fosfor: 18 mg
  • Protein: 0,9 gram.

9. Kembang kol

Kembang kol menyediakan banyak nutrisi, termasuk vitamin K, folat, dan serat. Kembang kol juga mengandung antioksidan dan senyawa anti-inflamasi.

Satu setengah cangkir (62 gram) kembang kol rebus tanpa garam mengandung:

  • Natrium: 9,3 mg
  • Kalium: 88 mg
  • Fosfor: 20 mg
  • Protein: 1 gram.

10. Bawang bombay

Bawang bombay adalah salah satu bumbu penyedap yang bebas natrium.

Bawang bombay menyediakan vitamin C, mangan, dan vitamin B, termasuk folat. Bawang bombay juga mengandung serat prebiotik yang membantu menjaga sistem pencernaan.

Satu bawang bombay kecil (70 gram) mengandung:

  • Natrium: 3 mg
  • Kalium: 102 mg
  • Fosfor: 20 mg
  • Protein: 0,8 gram.

11. Bawang putih

Bawang putih merupakan sumber mangan dan vitamin B6 yang baik. Bawang putih juga mengandung senyawa sulfur dengan sifat antiinflamasi.

Tiga siung (9 gram) bawang putih mengandung:

  • Natrium: 1,5 mg
  • Kalium 36 mg
  • Fosfor: 14 mg
  • Protein: 0,5 gram.

Makanan yang perlu dihindari penderita gangguan ginjal

Dilansir dari Health, berikut makanan yang perlu dihindari penderita gangguan ginjal:

Makanan tinggi natrium

  • Garam
  • Makanan asin: kerupuk, keripik kentang, pretzel, keripik tortilla
  • Makanan yang diawetkan: ham, bacon, asinan, acar
  • Daging makan siang: daging deli, pastrami, sosis, sosis, spam, hot dog
  • Makanan olahan: makanan kaleng, makanan siap saji beku, makanan cepat saji.

Makanan tinggi protein

  • Sumber hewani: daging, ayam, ikan, telur, produk susu
  • Sumber nabati: kacang-kacangan dan polong-polongan, biji-bijian.

Makanan dan minuman tinggi fosfor

  • Makanan dengan bahan tambahan fosfat: makanan yang mengandung dikalsium fosfat, disodium fosfat, monosodium fosfat, asam fosfat, trisodium fosfat
  • Produk susu: susu, keju, yogurt
  • Sumber protein: tiram, hati sapi, telur ikan, sarden, hati ayam, jeroan, daging olahan
  • Minuman tertentu: bir, kakao, minuman dengan bahan tambahan fosfat, soda berwarna gelap
  • Makanan lainnya: cokelat, karamel, dedak gandum (misalnya, muffin dedak gandum).

Makanan tinggi kalium

  • Buah-buahan: pisang, aprikot, kurma, buah-buahan kering, jeruk, jus jeruk, kiwi, melon
  • Sayuran: kentang, kacang-kacangan dan polong-polongan, biji-bijian dan labu butternut, artichoke, bit, sayuran hijau, tomat, alpukat
  • Produk susu: susu, yogurt
  • Biji-bijian: bekatul dan produk bekatul, bibit gandum, beras merah, kacang-kacangan, roti, dan pasta gandum.